
IRSYADUL MADANI INDONESIA (IMI)
“Merangkul Jiwa, Membangun Insan, Menghidupkan Peradaban”
Dokumen No: 003/SP/DPP-IMI/VIII/2026
Ciamis, 11 Agustus 2026
I. PENDAHULUAN – POTRET KONDISI BANGSA HARI INI
Indonesia hari ini berada di persimpangan jalan sejarah. Di satu sisi, kita
memiliki bonus demografi yang luar biasa: 70% penduduk berada di usia
produktif, pertumbuhan ekonomi yang stabil di angka 5%, dan kekayaan
sumber daya alam yang melimpah. Di sisi lain, kita menghadapi krisis
multidimensi yang nyata dan faktual yang mengancam fondasi keadaban
bangsa.
Bagai mana kita di pertontonkan dengan sistem politik yang memaksa kita semua baik masyarakat pemilih dan yang ingin dipilih nyata dan terlihat begitu masiv menggunakan uang baik membeli suara secara langsung atau berbagai kegiatan yang ujunh ujung nya membutuhkan uang untuk itu ,bagainana yang di pilih mengeluaekan biaya yang tidak sedikit untuk iklam kampanye dan membentuk saksi di setiap tps sehingga ujung nya setelah terpilih banyak di antara nya memilih untuk mencari lagi modal untuk biaya kampanye iklan dan merebut hati pemilih dengan sebagai mancam cara.sehingga jauh dari memikirkan bagai mana cara pengabdi kepada bangsa dan negara
Implemtasi hukum dan aturan yang telah di buat semua nya seakan begitu sempurna
Aturan dan undang undang menyasar ke setiap hal namun masalah yang paling mendasar adalah penerapan hukum yang tidak maksimal .bahkan lebih parah nya sudah menjadi budaya dalam proses penegakan hukum meringankan proses penyidikan di tingkat kepolisian ada istilah bisa di bantu tentunya dengan angka angka rupiah muncul untuk itu bagaimana proses penuntutan di tingkat kejaksaan ada dugaan proses meringankan tuntutan dengan rupiah dan bagaimanna dugaan oknum pengadilan yang dalam tujuan yang sama ya itu uang bisa membuat putusan ringan sampai kepada lembaga pemasyarakatan seakan sudah lumrah dan menjadi budaya itu di lakukan oleh kita semua masyarkat yang tersambung hukum termasuk para penegak hukum yang seharusnya menjalankan perintah undang undang tapi seolah menjadi budaya sogok menyogok itu di lakukaan tanpa rasa malu kepada dirinya dan Tuhan yang maha mengetahui
Bagai mana korupsi kolusi fan nepotisme menjadi tontonan yang pulgar bahkan para penegak hukum salinh menyerang dan menbuka aib masing masing sehingga membuka mata kita bahwa korupsi solusi nepitisme terjadi di semua lembaga negara hanya saja yang beruntung tidak ketahuan dan yang tertangkap dan di adili hanya karna sial .
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mencatat angka pengangguran
terbuka masih di angka 5,32% dengan dominasi pengangguran usia muda. Data
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat kasus kenakalan
remaja, bullying, dan penyalahgunaan narkoba meningkat 23% dalam 3 tahun
terakhir. Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat 3,3 juta jiwa terpapar
narkoba, 70% adalah usia produktif 15-35 tahun.
Di bidang sosial, survei Kementerian Sosial menunjukkan lunturnya nilai
gotong royong dan empati. Media sosial yang seharusnya menjadi alat
pemersatu justru menjadi ruang polarisasi, ujaran kebencian, dan hoaks yang
memecah belah persatuan. Indeks moderasi beragama menunjukkan tantangan
intoleransi dan radikalisme masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Inilah kondisi faktual bangsa: Kaya secara sumber daya, namun miskin
keteladanan. Maju secara teknologi, namun rapuh secara karakter. Ramai secara
populasi, namun sepi dari gerakan pembinaan insan yang sistematis,
berkelanjutan, dan menyentuh akar rumput.
II. LATAR BELAKANG LAHIRNYA IMI
Berangkat dari keprihatinan yang mendalam atas kondisi tersebut, serta
harapan besar menyongsong Indonesia Emas 2045, lahirlah Irsyadul Madani
Indonesia (IMI). IMI digagas oleh dua anak bangsa, M. Ijudin Rahmat, SH,
SHi, MH dan Dede Adriansyah, S.IP pada tanggal 11 Agustus 2026 di Ciamis,
Jawa Barat.
Nama Irsyadul Madani dipilih bukan tanpa makna. Irsyad (■■■■■)
berarti bimbingan, petunjuk, dan pengarahan menuju kebaikan dan
kemaslahatan. Madani (■■■■) berarti masyarakat yang berkeadaban,
berkemajuan, tertata, beretika, dan bermartabat seperti peradaban Madinah yang
dibangun Rasulullah SAW. Indonesia menegaskan komitmen kebangsaan kami:
NKRI Harga Mati, Pancasila sebagai asas, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai
jiwa.
IMI tidak lahir untuk menjadi ormas yang sekadar ramai secara
seremonial. IMI lahir untuk menjadi gerakan pembinaan manusia (human
development movement) yang fokus pada tiga hal: Merangkul Jiwa,
Membangun Insan, dan Menghidupkan Peradaban.
III. KONDISI FAKTUAL YANG MENJADI FOKUS PERJUANGAN IMI
- KRISIS KARAKTER DAN AKHLAK: Degradasi moral di kalangan
pelajar dan pemuda. Kasus tawuran, perundungan (bullying), seks bebas,
penyalahgunaan narkoba obat obat terlarang dan ,merajalela nya judi online menjadi ancaman nyata.bagi kehidupan berbangsa dan bernegara IMI hadir dengan pilar IMI
INSAN untuk pembinaan akhlak dan spiritualitas. - KRISIS PENDIDIKAN DAN LITERASI: Rata-rata lama sekolah
masih 8,9 tahun. Minat baca rendah, literasi digital rendah sehingga mudah
termakan hoaks. Pengangguran terdidik tinggi karena ketidaksesuaian skill
dengan lapangan kerja. IMI hadir dengan pilar IMI EDU dan IMI MUDA
melalui pendidikan masyarakat, beasiswa, pelatihan, dan kaderisasi
kepemimpinan. - KRISIS KETAHANAN KELUARGA: Angka perceraian meningkat,
KDRT, dan kurangnya pola asuh (parenting) yang baik. Keluarga sebagai
benteng pertama peradaban mulai rapuh. IMI hadir dengan pilar IMI FAMILY untuk penguatan ketahanan keluarga dan parenting Islami dan kebangsaan. - KRISIS EKONOMI UMAT: Dominasi UMKM yang belum naik kelas,
literasi keuangan rendah, banyak masyarakat terjerat pinjaman online ilegal.
99% pelaku usaha adalah UMKM namun kontribusinya terhadap PDB baru
61%. IMI hadir dengan pilar IMI BERDAYA untuk pemberdayaan ekonomi,
kewirausahaan, koperasi, dan UMKM. - KRISIS SOSIAL DAN KEMANUSIAAN: Bencana alam yang hampir
setiap hari terjadi, kesenjangan sosial, dan kurangnya relawan yang terlatih dan
terorganisir. IMI hadir dengan pilar IMI PEDULI untuk gerakan sosial,
kemanusiaan, dan kebencanaan yang cepat tanggap. - KRISIS REINTEGRASI SOSIAL: Ribuan warga binaan
pemasyarakatan yang keluar dari lapas kesulitan kembali ke masyarakat karena
stigma dan tidak memiliki keterampilan. Mereka butuh dirangkul, bukan
dijauhi. IMI hadir dengan pilar IMI REINTEGRASI untuk pembinaan dan
pemberdayaan warga binaan agar kembali produktif. - KRISIS LITERASI DIGITAL: Masyarakat gagap teknologi, menjadi
korban judi online, pinjaman online, dan hoaks. Padahal era digital adalah
peluang besar. IMI hadir dengan pilar IMI DIGITAL untuk literasi digital,
media kreatif, dan inovasi teknologi untuk dakwah dan pemberdayaan.
IV. APA YANG MEMBEDAKAN IMI DENGAN ORMAS LAIN? - INKLUSIF DAN HUMANIS: IMI merangkul semua jiwa tanpa
membedakan suku, agama, ras, golongan, dan latar belakang. Sesuai motto:
Merangkul Jiwa. Kami hadir untuk semua, termasuk mereka yang
termarjinalkan seperti warga binaan. - FOKUS PADA PEMBINAAN INSAN, BUKAN SEKADAR
ORGANISASI: Kami tidak hanya ingin membangun organisasi yang besar, tapi
ingin membangun manusia yang bermanfaat. Orientasinya adalah kualitas,
bukan sekadar kuantitas anggota. - GERAKAN BERBASIS PILAR YANG JELAS: 8 pilar gerakan
membuat program IMI terukur, tidak tumpang tindih, dan menyentuh semua
aspek kehidupan: dari akhlak, pendidikan, keluarga, ekonomi, sosial, hingga digital. - PROFESIONAL DAN BERKELANJUTAN: Didukung oleh Dewan
Pendiri dari berbagai latar belakang: Purnawirawan Jenderal TNI-Polri,
akademisi, pengacara, dan aktivis. Dikelola dengan manajemen modern,
database digital, dan laporan keuangan transparan. - BERORIENTASI PERADABAN JANGKA PANJANG: Grand Design
IMI disusun untuk 20 tahun (2026-2045) dengan roadmap yang jelas: Fondasi
(2026), Ekspansi (2027), Konsolidasi (2028-2029), dan Transformasi
Peradaban (2029-2045).
V. VISI DAN MISI SEBAGAI JAWABAN ATAS KONDISI FAKTUAL
Visi 2045 IMI: Menjadi ormas nasional yang terpercaya, inklusif,
profesional, dan berkelanjutan dalam membimbing, membina, serta
memberdayakan masyarakat untuk melahirkan insan Indonesia yang beriman,
berakhlak, berilmu, mandiri, produktif, berkeadaban, dan berdaya saing, sebagai
bagian dari kekuatan masyarakat sipil dalam mewujudkan Indonesia Emas
Visi ini adalah jawaban atas krisis karakter, pendidikan, ekonomi, dan
sosial yang telah dipaparkan di atas. IMI ingin menjadi bagian dari solusi,
bukan bagian dari masalah.
VI. PENUTUP – AJAKAN PERJUANGAN
Kondisi bangsa hari ini adalah cerminan dari kondisi manusianya. Jika
manusianya baik, maka bangsanya akan baik. Jika manusianya berkeadaban,
maka peradabannya akan maju.
IMI tidak bisa berjalan sendiri. IMI membutuhkan dukungan dari semua
elemen bangsa: pemerintah, TNI-POLRI, akademisi, pengusaha, tokoh agama,
tokoh masyarakat, dan seluruh rakyat Indonesia.
Mari kita mulai dari satu jiwa kita rangkul. Dari satu keluarga kita
kuatkan. Dari satu komunitas kita gerakkan. Dari Indonesia kita bangun
peradaban.
Irsyadul Madani Indonesia (IMI) – Merangkul Jiwa, Membangun Insan,
Menghidupkan Peradaban. Bersatu, Beriman, Beradab, Indonesia Maju.
Menuju Indonesia Emas 2045.
Ditetapkan di: Ciamis, 11 Agustus 2026
M. Ijudin Rahmat, SH, SHi, MH
Ketua Umum
Dede Adriansyah, S.IP
Wakil Ketua Umum
